Progres terjauh berada di Segmen 1C, dari Jalan Jati Bunder hingga Jalan Lontar Raya. Pengerukan telah mencapai 376 meter dari total 390 meter, dengan volume material yang diangkat sekitar 2.494,2 meter kubik.
Di Segmen 1B, dari Jembatan Rel hingga Jalan Jati Bunder, pengerukan telah mencapai 91 meter dari total 345 meter, dengan volume 236 meter kubik. Kepadatan permukiman membatasi mobilisasi alat berat sehingga sebagian pengangkutan material harus dilakukan secara manual.
“Di sini kawasan sangat padat, sehingga mobilisasi alat berat sulit dan sebagian pengangkutan harus dilakukan secara manual,” jelas Gubernur Pramono.
Adapun di Segmen 2, pengerukan baru mencapai 35 meter dari total 430 meter. Proses pengepukan dilakukan secara estafet dan belum masuk tahap loading. Untuk Segmen 3, dari Blok G Pasar Tanah Abang hingga Jalan Jatibaru sepanjang 880 meter, penanganannya masih dalam tahap perencanaan karena keterbatasan akses alat dan area pemuatan.
“Di Segmen 2, pengerukan baru mencapai 35 meter dari 430 meter, di mana proses pengepukan dilakukan secara estafet dan belum masuk tahap loading. Untuk Segmen 3, dari Blok G Pasar Tanah Abang sampai Jalan Jatibaru sepanjang 880 meter, penanganannya masih dalam proses perencanaan karena akses alat dan loading terbatas,” tutur Gubernur Pramono.
Melihat kondisi di sepanjang aliran tersebut, Gubernur Pramono memutuskan penanganan tidak berhenti pada pengerukan sedimentasi. Pemprov DKI Jakarta akan menyiapkan penataan kawasan terpadu yang mencakup pembangunan turap, pembenahan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) komunal, serta penghijauan bantaran.
“Hari ini saya sengaja datang kembali ke Anak Kali Krukut, dan saya memutuskan bahwa penanganan ini tidak bisa lagi hanya sekadar menggali lumpur. Kita akan menata ini menjadi kawasan terpadu sepanjang 2,3 kilometer secara matang, termasuk pembangunan turap, penataan MCK komunal yang lebih baik, serta penghijauan di sepanjang bantaran,” tegasnya.
Penataan tersebut, lanjut Gubernur Pramono, akan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang telah lama tinggal dan mencari nafkah di kawasan tersebut.
“Kami tidak melakukan penggusuran karena masyarakat rata-rata sudah tinggal puluhan tahun dan mencari nafkah di kawasan ini. Yang kita lakukan adalah merapikan fasilitas penunjang seperti MCK agar lebih layak dan bersih, sehingga lingkungannya tertata dengan sehat,” katanya.
Gubernur Pramono meminta Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta mempresentasikan rencana teknis penataan pada pekan depan. Pekerjaan fisik kawasan ditargetkan mulai pada awal 2027 dan rampung pada 2028.
“Saya minta minggu depan Kepala Dinas Sumber Daya Air mempresentasikan rencananya, dan awal tahun depan pekerjaan fisik kawasan sudah harus dimulai. Jika regulasinya memerlukan penetapan lokasi, kami dorong demi penataan menyeluruh dengan target rampung pada 2028,” pungkasnya.














