Kepungan Asap Gambut Teluk Lancar, Perjuangan Pantang Surut Pemadam Karhutla Bengkalis

Dari bentangan lahan bergambut yang terbakar, jerih payah para petugas telah membuahkan hasil dengan memadamkan kobaran di area seluas 3,3 hektare. Kendati demikian, asap putih pekat yang merayap di antara celah tanah memaksa pasukan pemadam untuk tetap menjejakkan kaki di lokasi.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi Sumatera VI/Siak, Ihsan Abdillah, menegaskan bahwa penanganan dari permukaan hingga ceruk tanah mutlak dilakukan tanpa henti. Langkah tersebut diambil agar jelaga yang tersisa tidak kembali memantik jilatan api di kemudian hari.

“Masih terdapat asap, sehingga diperlukan pemadaman lanjutan untuk memastikan kondisi benar-benar aman,” ujar Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VI/Siak, Ihsan Abdillah.

Kebakaran hebat ini memamah area penggunaan lain (APL) yang ditumbuhi vegetasi alami seperti rimbun sagu, pakis, resam, serta semak belukar yang mengering. Struktur tanah gambut yang tebal membuat jilatan api menjalar hingga ke rahim bumi secara tersembunyi.

Usaha pemadaman di darat tidak berjalan sendirian karena mendapat tumpuan bantuan dari udara melalui helikopter pemadam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan armada water bombing guna mengguyurkan ribuan liter air dari langit Bengkalis.

Namun, ikhtiar membendung amuk api di atas hamparan vegetasi tersebut harus bertarung dengan keringnya dahaga alam. Keterbatasan sumber air di sekeliling area penanganan menjadi dinding tebal yang menghambat laju juluran selang petugas.

Menyiasati dahaga alur air yang mengering, para personel di lapangan terus memeras keringat melakukan teknik pendinginan. Setiap sudut celah gambut disiram secara berulang demi melumpuhkan bara api yang bersembunyi di balik hamparan resam.

Hingga malam mulai membungkus kawasan pesisir tersebut, deru mesin pompa air masih terus bersahut-sahutan di tengah kesunyian lahan. Para petugas enggan beranjak sebelum memastikan sang jago merah benar-benar terlelap di balik tanah.

Menyiasati dahaga alur air yang mengering, para personel di lapangan terus memeras keringat melakukan teknik pendinginan. Setiap sudut celah gambut disiram secara berulang demi melumpuhkan bara api yang bersembunyi di balik hamparan resam.

Hingga malam mulai membungkus kawasan pesisir tersebut, deru mesin pompa air masih terus bersahut-sahutan di tengah kesunyian lahan. Para petugas enggan beranjak sebelum memastikan sang jago merah benar-benar terlelap di balik tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *