“Menjadi Abang dan None bukan semata-mata tentang selempang atau gelar. Di baliknya ada nama Jakarta yang melekat, ada citra kota yang harus dijaga, dan ada nilai-nilai budaya yang harus terus dirawat,” ujarnya.
Ia mengatakan, seluruh tahapan seleksi dan pembekalan telah memberi para finalis pemahaman lebih luas mengenai Jakarta, mulai dari pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga berbagai potensi kota. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk memperkenalkan Jakarta secara lebih kuat kepada masyarakat.
Wagub Rano menilai Abang dan None memiliki posisi strategis sebagai penghubung Jakarta dengan generasi muda dan masyarakat internasional. Karena itu, mereka perlu mampu menceritakan Jakarta melalui kekayaan budaya, kuliner, komunitas, kreativitas, dan karakter masyarakatnya.
“Sebagai representasi Jakarta, Abang dan None adalah jembatan yang menghubungkan Jakarta dengan generasi muda dan dunia. Ceritakanlah Jakarta melalui budaya, kreativitas kuliner, komunitas, serta kehangatan masyarakatnya,” tuturnya.
Ia berharap para finalis tidak menjadikan malam final sebagai akhir perjalanan. Menurutnya, gelar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan karena kontribusi kepada Jakarta harus terus diwujudkan melalui karya dan kegiatan positif.
“Kemenangan kita rayakan, tetapi apa pun hasilnya, kontribusi untuk Jakarta harus terus diupayakan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan selalu membuka ruang bagi anak muda untuk terus berkarya dan berinovasi,” ungkapnya.
Pada malam final tersebut, Herve Pierre Sidarta, wakil Jakarta Selatan, terpilih sebagai Abang Jakarta 2026, sedangkan Citra, wakil Jakarta Timur, terpilih sebagai None Jakarta 2026.














