SemestaPost, Denpasar – Satgaswil Bali Densus 88 Antiteror Polri turut berpartisipasi dalam kegiatan Seminar Literasi Digital 2026 bertema “Pemberdayaan Komunitas Masyarakat dalam Menjaga Keamanan di Ruang Digital Bali guna Mendukung Pariwisata Bali yang Berkualitas dan Bermartabat”. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Kamis (29/10/2026).
Seminar ini diikuti sebanyak 850 peserta, terdiri dari 350 peserta secara langsung dan 500 peserta secara daring. Para peserta berasal dari berbagai unsur, meliputi TNI-Polri, aparatur sipil negara (ASN), pengelola destinasi wisata, pelaku UMKM, mahasiswa, serta komunitas digital se-Provinsi Bali.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H., serta Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Putra Widiastawa.
Dalam sambutannya, Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan mengantisipasi berbagai ancaman kejahatan siber yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan sektor pariwisata Bali.
Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Pasma Royce menegaskan bahwa ruang digital kini telah menjadi bagian dari ruang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang harus dijaga bersama. Polri dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi guna memberikan perlindungan kepada masyarakat dan wisatawan serta mempertahankan kepercayaan dunia terhadap Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.
Kasatgaswil Bali Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Yulianto Rombe Biantong, A.Md., S.H., hadir sebagai salah satu narasumber dengan memberikan edukasi mengenai ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), serta fenomena Composite Violent Extremism (CoVE) yang berkembang melalui ruang digital.
Dalam pemaparannya, Yulianto menjelaskan capaian tiga tahun tanpa serangan terorisme (zero attack) di Indonesia serta berbagai tantangan pencegahan yang masih perlu diwaspadai, mulai dari penyebaran paham ekstrem, propaganda kekerasan, ujaran kebencian, hingga penyalahgunaan media sosial untuk memengaruhi kelompok rentan.
Ia juga menyoroti perkembangan modus penyebaran paham radikal dan ekstremisme kekerasan melalui platform digital, termasuk pola pendekatan dan perekrutan yang menyasar anak-anak serta remaja.
Menurutnya, fenomena CoVE menjadi salah satu tantangan baru karena paparan terhadap konten kekerasan di ruang digital dapat terjadi melalui berbagai bentuk narasi dan komunitas daring yang tidak selalu berkaitan dengan satu ideologi tertentu.
Dalam kesempatan tersebut, Densus 88 AT Polri turut memberikan pemahaman mengenai ciri-ciri perubahan perilaku anak yang perlu diwaspadai, proses paparan konten ekstremisme, serta pentingnya keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam upaya pencegahan sejak dini.
Berbagai langkah preventif dan intervensi yang telah dilakukan Satgaswil Bali bersama pemangku kepentingan terkait juga menjadi bagian dari materi edukasi guna memperkuat kewaspadaan masyarakat terhadap potensi ancaman ekstremisme kekerasan.
Selain materi pencegahan radikalisme dan terorisme, seminar ini menghadirkan sejumlah pakar keamanan digital, di antaranya Direktur Reserse Siber Polda Bali Kombes Pol. Aszhari Kurniawan, S.H., S.I.K., M.Si., yang membahas modus kejahatan siber dan dampaknya terhadap sektor pariwisata Bali.
Pakar keamanan siber Dr. Pratama Dahlian Persadha, S.Sos., M.M., turut memaparkan perkembangan penipuan digital berskala global serta langkah antisipasinya. Sementara itu, perwakilan Diskominfos Provinsi Bali I Putu Sundika, S.T., M.T., menjelaskan pentingnya prinsip Confidentiality, Integrity, and Availability (CIA) sebagai fondasi keamanan informasi.
Dari kalangan akademisi, I Gede Putu Krisna Juliharta, S.T., M.T., menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat sebagai human firewall, yakni individu yang mampu mengenali ancaman digital, bersikap waspada, dan menerapkan perilaku aman saat menggunakan teknologi.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan peserta serta para narasumber.
Melalui seminar ini, Densus 88 AT Polri mendorong penguatan sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, akademisi, pelaku pariwisata, komunitas digital, dan masyarakat dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, serta terbebas dari penyebaran propaganda kekerasan dan ekstremisme.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman siber sekaligus mendukung terwujudnya pariwisata Bali yang berkualitas, bermartabat, dan berkelanjutan.
Keamanan ruang digital bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Bali tetap aman, damai, dan toleran.













