Ketua Tim Pengarah Siaga Bumi & IRI Indonesia Din Syamsuddin menjelaskan, pertemuan ini membahas tentang gerakan lintas agama Indonesia, yang bersama-sama bergerak untuk menyelamatkan bumi.
“Ini merupakan gerakan moral dari umat berbagai agama yang berkolaborasi untuk menyelamatkan bumi dengan melakukan berbagai macam kegiatan,” kata Din Syamsuddin yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2005-2010 dan 2010-2015.
Menurut Din Syamsuddin, ada banyak kegiatan pro lingkungan yang dapat dilakukan dengan melibatkan umat dari berbagai agama. Misalnya memberikan pencerahan tentang lingkungan hidup dengan pendekatan teologi, yakni pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup menjadi bahan khotbah beragama,
Siaga bumi dan IRI Indonesia akan berkampanye menyampaikan pesan-pesan keagamaan tentang lingkungan hidup “Kami siap berkolaborasi dengan program yang didukung negara/pemerintah atau bahkan menjadi bagian dari program pemerintah,” kata Din Syamsuddin.
Din Syamsuddin mengatakan, gerakan ini bisa dilakukan dengan cara pengasrian fisik rumah ibadah, pengasrian lingkungan sekitarnya, penghematan air, hingga ke manajemen sampah.
Kemudian perwakilan dari Paroki-gereja katolik di Indonesia menyatakan, pihaknya bisa mengembangkan sebuah gerakan yang diberi nama gereja ramah lingkungan. Pengertiannya adalah sebuah gereja yang dapat menghidupi lingkungannya, melakukan gerakan pilah sampah, anti plastik dan styrofoam.
Kemudian menetapkan gereja sebagai kawasan bebas rokok. Lalu melakukan kegiatan penyelamatan air, silih ekologi dengan mengkalkulasi setiap langkah beberapa kilometer jadi donasi senilai Rp10.000. Tak ketinggalan menggalang solidaritas dengan penggunaan pangan lokal, tidak menggunakan pangan impor.
Selanjutnya perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan lembaganya akan mengeluarkan fatwa pelarangan pembuangan sampah ke sungai. Kemudian sama seperti yang diterapkan Paroki, yakni melakukan gerakan sedekah sampah Indonesia. Kepedulian bukan hanya difokuskan pada plastik tetapi juga sampah organik. Termasuk menginisiasi Gerakan Eco Masjid.
Perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) menyatakan akan mencanangkan gerakan gereja menjadi sahabat lingkungan. PGI selama ini sudah bersuara kritis terhadap perusakan lingkungan. PGI juga mendorong terciptanya Green Technology dan Blue Technology.
Menanggapi paparan dari sejumlah tokoh Gerakan Siaga Bumi & IRI Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengaku dirinya senang dan bahagia bisa mendapatkan banyak dukungan.
“Kementerian Lingkungan Hidup bisa melakukan sinergi dengan banyak pihak termasuk Gerakan Siaga Bumi & IRI Indonesia untuk menyelamatkan bumi. Terlebih lagi dukungan ini datang berbagai umat agama, intelektual, dan banyak kalangan lainnya,” kata Menteri Jumhur.
Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Rosa Vivien Ratnawati, mengakui dukungan dari gerakan lintas agama telah ada sejak lama. Selama ini, KLH juga telah berkolaborasi dengan pesantren dan gerakan keagamaan lainnya dalam pemulihan lingkungan.
Sedangkan Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan BPLH, Sigit Reliantoro, memaparkan materi soal ekosistem gambut dan danau yang saat ini cukup banyak permasalahan.
Hal terpenting, kata Sigit, yakni bagaimana persuasi religius dapat memengaruhi perlakuan masyarakat terutama terkait pembakaran gambut, dan pembuangan sampah serta upaya mencegah kerusakan alam.
Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Erik Teguh Primiantoro, menjelaskan, dalam rangka mendukung tobat ekologis, nilai agama telah mendukung pengembangan nilai-nilai etika lingkungan. Bahkan kini punya organisasi generasi lingkungan untuk mendukung tobat ekologis.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Irjen Pol Rizal Irawan mengungkapkan, saat ini ada sebanyak 490 kepala daerah yang diingatkan terkait keadilan lingkungan dan pelanggaran lingkungan. “Tobat ekologis dimaksudkan untuk menuju pemulihan lingkungan hidup yang baik bagi generasi ke depan. Lalu melakukan social engineering seperti memilah sampah,” kata Rizal.
Menurut Rizal, saat ini permasalahan yang menjadi fokus KLH adalah perubahan perilaku masyarakat. Hal ini dimulai dari pendidikan seperti menerapkan GreenMetric dan Adiwiyata. Kemudian peran serta dari bidang agama, penegakan hukum. Tak kalah penting adalah aspek pasar. Yakni pasar karbon trading, pencegahan perdagangan satwa, dan pengolahan sampah.
“Harus diingat bahwa mental crisis dan climate change bisa menyebabkan ecological collapse. Hal itu berdasarkan acuan dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim. Kini kami juga mulai memberikan perhatian pada pendekatan aspek agama,” kata Rizal.
“Rencananya ada kegiatan umat lintas agama yakni melakukan aksi membersihkan sampah dan penanaman pohon yang akan digelar pada 17 Agustus 2026 mendatang. Termasuk pengumuman prestasi sungai terbersih, pasar terbersih dan tema lainnya yang menarik,” kata Rizal.
Dari semua rangkaian acara yang dikutif dari Humas kementerian lingkungan hidup pada akhir pertemuan , Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengungkapkan bahwa saat ini Undang-Undang Keadilan Iklim sedang dirancang. Diharapkan UU ini dapat jadi acuan dalam mewujudkan climate justice atau keadilan iklim. Keadilan iklim adalah gerakan dan pendekatan yang memandang krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan atau sains, melainkan masalah hak asasi manusia dan kesetaraan sosial. Konsep ini berfokus pada fakta bahwa kelompok yang paling rentan menanggung dampak terburuk padahal menyumbang emisi paling sedikit.













