SemestaPost, Bogor – Kementerian Agama (Kemenag) terus memperluas akses masyarakat terhadap Al-Qur’an, termasuk bagi penyandang disabilitas. Upaya tersebut dilakukan melalui Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dengan menghadirkan Mushaf Al-Qur’an Braille hingga Mushaf Al-Qur’an Isyarat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan, penyediaan mushaf yang inklusif merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan keagamaan yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga memastikan masyarakat dengan kebutuhan khusus memperoleh akses yang sesuai.
“Al-Qur’an di sini juga sangat dibutuhkan. Tinggal soal adat atau etika membacanya. Kalau masyarakat membutuhkan, kita harus mempermudah sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat,” ujar Abu Rokhmad dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke UPQ Kemenag, Ciawi, Kabupaten Bogor, Kamis (20/8/2026).
Abu Rokhmad menjelaskan, Kemenag melalui UPQ telah mengembangkan sejumlah produk yang mendukung aksesibilitas, antara lain Mushaf Braille dan Mushaf Al-Qur’an Isyarat. Langkah tersebut sejalan dengan semangat transformasi layanan keagamaan yang inklusif sekaligus penguatan literasi keagamaan Islam yang menjadi bagian dari arah kebijakan Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kepala Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama Ismail Nur mengatakan, pengembangan mushaf bagi penyandang disabilitas menjadi salah satu bagian penting dari inovasi UPQ. Selain memproduksi Mushaf Standar Indonesia, UPQ telah memproduksi Mushaf Al-Qur’an Braille, termasuk Juz ‘Amma dan Al-Qur’an Braille Juz 1–3.
Menurut Ismail, UPQ juga mengembangkan Mushaf Al-Qur’an Isyarat Metode Kitabah. Produk tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat dengan hambatan pendengaran memperoleh akses terhadap Al-Qur’an melalui pendekatan bahasa isyarat.
“Ini adalah produk anak bangsa kita yang menggunakan mushaf isyarat. Kami sudah memamerkannya di Malaysia dan Mesir, dan sambutannya cukup baik karena mushaf ini sangat membantu mereka yang mengalami keterbatasan,” kata Ismail.
Ismail menuturkan, Mushaf Al-Qur’an Isyarat Metode Kitabah bahkan telah diperkenalkan dalam forum internasional. UPQ memamerkannya di Malaysia pada November tahun lalu dan kembali membawanya ke Mesir pada awal 2026. Inovasi tersebut mendapat perhatian karena Indonesia menjadi salah satu negara yang mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an berbasis huruf melalui bahasa isyarat.
Selain aspek aksesibilitas, UPQ juga terus mengembangkan layanan literasi keagamaan melalui Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI). Transformasi UPQ menjadi PLKI dilakukan untuk memperluas fungsi lembaga, tidak hanya sebagai tempat mencetak dan mendistribusikan Al-Qur’an, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, pengkajian, dan pengembangan literasi Islam.
PLKI menyediakan enam layanan utama, yakni edukasi sejarah dan perkembangan penulisan serta percetakan Al-Qur’an, pengkajian Al-Qur’an dan buku keislaman moderat, fasilitas perpustakaan cetak dan digital, ruang baca-tulis Braille dan bahasa isyarat, workshop seni penulisan atau kaligrafi serta bedah buku, dan penyediaan khazanah literatur Islam Indonesia dan dunia.
Data UPQ menunjukkan, Gedung PLKI telah menerima 6.447 pengunjung dari 85 rombongan sepanjang Januari hingga 19 Agustus 2026. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari madrasah dan sekolah, majelis taklim, PAUD, pesantren, perguruan tinggi, organisasi keagamaan hingga masyarakat umum.
Ismail menambahkan, penguatan layanan inklusif tersebut akan terus dikembangkan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses literasi Al-Qur’an. Di sisi lain, UPQ juga tengah mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui modernisasi mesin percetakan agar kebutuhan mushaf di Indonesia dapat dipenuhi secara lebih optimal.
Pengembangan UPQ dan PLKI, lanjutnya, mendapat dukungan melalui pembangunan kompleks di atas lahan sekitar dua hektare dengan anggaran SBSN sekitar Rp178 miliar pada 2023–2024. Kompleks tersebut terdiri atas zona percetakan dan zona literasi yang dilengkapi galeri, perpustakaan, arsip, museum, serta fasilitas literasi yang mendukung akses masyarakat terhadap khazanah Al-Qur’an dan keislaman.
“Langkah tersebut menegaskan komitmen Kemenag untuk menghadirkan layanan Al-Qur’an yang tidak hanya tersedia secara luas, tetapi juga dapat diakses secara setara oleh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Dengan penguatan produksi, inovasi mushaf, dan fasilitas literasi, UPQ diarahkan menjadi pusat layanan Al-Qur’an sekaligus literasi keagamaan yang semakin inklusif,” tandasnya.












