Gubernur Pramono mengapresiasi kelengkapan fasilitas kesehatan di gedung baru tersebut, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan padat penduduk. Menurutnya, pelayanan kesehatan harus menjangkau seluruh tahapan kehidupan, bukan hanya menangani masyarakat ketika sakit.
Penguatan pelayanan tersebut didukung berbagai inovasi, antara lain PELITA untuk penanganan tuberkulosis (TBC) dan kusta, TARI untuk stimulasi tumbuh kembang anak, serta BEKEL untuk pendampingan ibu hamil dan ibu nifas.
Program BEKEL mendampingi sekitar 36 ibu hamil dan 11 ibu nifas setiap bulan. Sementara itu, TARI yang berjalan sejak Agustus 2026 melayani sekitar 25 balita per bulan. Puskesmas ini juga memiliki Kelas Opa Oma yang menjangkau sekitar 120 lansia setiap bulan melalui pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, dan kegiatan pemberdayaan.
“Kami memberikan perhatian khusus pada kesehatan, pendidikan, dan bantalan sosial. Pertumbuhan ekonomi yang baik tidak ada artinya jika tidak berdampak pada masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, anggaran yang bersumber dari pajak harus diwujudkan menjadi pelayanan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa pemindahan Puskesmas Kecamatan Taman Sari dari Jalan Blustru ke gedung baru memungkinkan pengembangan layanan yang sebelumnya terkendala keterbatasan ruang.
“Secara umum, layanan dasarnya tetap sama, termasuk pelayanan 24 jam dan layanan rawat bersalin. Namun, dengan gedung baru yang lebih luas, kami dapat mengembangkan lebih banyak layanan, terutama layanan kunjungan sehat yang menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif,” jelas Ani.
Gedung lama di Jalan Blustru kini dimanfaatkan sebagai Pustu Taman Sari untuk memperkuat jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat.
Ani menambahkan, seluruh 44 kecamatan di Jakarta telah memiliki puskesmas kecamatan dengan layanan 24 jam. Pemprov DKI Jakarta juga terus meningkatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk pembangunan dan pengembangan Pustu di wilayah yang membutuhkan.
Pada 2025, pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan di delapan lokasi, terdiri atas dua puskesmas kecamatan dan enam Pustu. Sementara itu, pembangunan tiga Pustu di Jakarta Barat, yakni Slipi II, Tegal Alur, dan Kedoya Utara, sedang berlangsung pada 2026.














