Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Pramono mengajak para siswa memahami bahwa kepemimpinan tidak memiliki satu pola yang sama. Setiap orang dapat mengembangkan gaya kepemimpinan sesuai karakter, kondisi organisasi, dan tanggung jawab yang diemban.
“Kepemimpinan itu ada pada setiap level, pada setiap golongan, pada setiap kelompok. Dan seseorang untuk memimpin itu bisa berbeda-beda. Dari dua ketua OSIS ini saja saya yakin cara memimpinnya berbeda. Ada yang sangat disiplin, gaya kepemimpinannya terbuka, tetapi ada yang lebih terstruktur dan teknokratik. Ini pilihan dalam memimpin,” ujar Gubernur Pramono.
Ia kemudian membagikan pengalaman kepemimpinannya sejak masa sekolah hingga perguruan tinggi untuk memotivasi para peserta agar berani memiliki cita-cita dan konsisten memperjuangkannya.
“Bapak Gubernur ini asli dari Kediri, Jawa Timur. SMP menjadi ketua OSIS, SMA menjadi ketua OSIS, ketika kuliah di ITB menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Dalam hidup itu harus ada sesuatu yang diinginkan, dimimpikan, diharapkan, diperjuangkan, dan harus bisa diraih. Yang paling penting adalah jangan pernah kehilangan konsentrasi untuk bisa meraih mimpi kamu. Mimpi itu harus ada dan ditempelkan di pikiran kita, dalam napas kita, dalam hidup kita,” katanya.
Menurut Gubernur Pramono, kepemimpinan juga membutuhkan disiplin, konsistensi, serta kemampuan melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun sebelumnya.
“Saya tidak muluk-muluk, melakukan sesuatu yang harus bisa dijalankan, dan saya mengatakan bahwa saya akan melanjutkan hal-hal baik dari gubernur-gubernur sebelumnya. Dalam era kepemimpinan saya selama hampir dua tahun ini, indeks kota global Jakarta naik dari 74 ke 71. Berdasarkan survei Oxford University, dari seribu kota dunia, Jakarta berada di peringkat 140,” jelasnya.
Ia menambahkan, kultur kepemimpinan yang diterapkan di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengedepankan pendekatan humanis, teknokratis, dan disiplin. Kepada para siswa, ia juga menyampaikan rencana program beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak Jakarta.
“Untuk program utama kita ada dua, yang pertama itu ada Q-Test, kompetisi antar sekolah di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi. Dan yang kedua kami membantu sekolah menyelenggarakan kegiatan Adiwiyata, yang saat ini alhamdulillah sekolah kami sudah Adiwiyata tingkat nasional dan menuju tingkat mandiri,” ungkap Fahrezi














