Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Sekolah Menengah Atas ini merupakan puncak rangkaian Program MODULAR SMA 2026 untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif, gim edukasi, laboratorium maya, dan kecerdasan artifisial (AI).
Wamen Atip mengatakan, karakteristik murid jenjang SMA yang merupakan digital natives, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, menuntut pembelajaran yang semakin visual, interaktif, dan kolaboratif. Oleh karena itu, transformasi digital menjadi kebutuhan agar pembelajaran tetap berkualitas, relevan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Seiring pesatnya arus informasi, transformasi digital di dunia pendidikan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mutlak, keniscayaan agar kualitas pembelajaran nasional tetap berkualitas, relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah terus mendorong transformasi digital melalui penyediaan sarana dan prasarana teknologi, termasuk Papan Interaktif Digital (PID). Namun, keberadaan perangkat tersebut harus diikuti perubahan paradigma pembelajaran. “Hakikat digitalisasi bukan sebatas menghadirkan perangkat teknologi atau memindahkan teks buku ke layar monitor. Melainkan mengubah paradigma mengajar agar lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada murid,” tegasnya.
Wamendikdasmen juga menekankan bahwa pendidik tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan. Teknologi dan AI dapat membantu pembelajaran, tetapi peran pendidik tetap membutuhkan sentuhan manusia. “Pendidik tetap menjadi aktor utama yang tak tergantikan. Posisi pendidik sebagai educator itu, dia tidak tergantikan dengan teknologi,” ujarnya.
Oleh Karena itu, ia mengapresiasi Program MODULAR yang mendorong pendidik tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan konten pembelajaran berupa Media Pembelajaran Interaktif (MPI), gim edukasi, dan laboratorium maya.
Direktur Sekolah Menengah Atas, Yuli Haryanto melaporkan, Program MODULAR SMA 2026 diikuti 4.025 peserta melalui lima sesi pendampingan. Setelah proses pendampingan dan seleksi, 692 peserta menghasilkan 2.052 konten pembelajaran digital. Sebanyak 874 konten lolos ke tahap penilaian dan selanjutnya ditetapkan 200 peserta untuk mengikuti MODULAR Summit 2026. Pada tahap finalisasi, peserta terpilih menghasilkan 362 konten yang selanjutnya akan diunggah dan dimanfaatkan melalui Ruang Murid.
MODULAR Summit 2026 diikuti 200 peserta, terdiri atas 100 peserta luring dan 100 peserta daring, serta melibatkan fasilitator, kurator, validator, praktisi pendidikan, dan 11 mitra pembelajaran.
Wamen Atip menegaskan, karya peserta tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan MODULAR Summit, tetapi perlu dimanfaatkan secara lebih luas. Para peserta juga diharapkan menjadi penggerak yang mengimbaskan pengetahuan dan keterampilan kepada pendidik lain di satuan pendidikan maupun wilayahnya. Dalam konteks perkembangan AI, ia mengingatkan pentingnya kemampuan pendidik dan murid untuk memahami, menilai, dan memanfaatkan teknologi secara tepat. Perkembangan teknologi, menurutnya, juga dapat membuka peluang dan melahirkan jenis pekerjaan baru, termasuk bagi pendidik sebagai kreator konten pembelajaran.
Melalui MODULAR Summit 2026, Kemendikdasmen mendorong terbentuknya ekosistem pembelajaran digital yang didukung kualitas konten dan kapasitas pendidik. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, BBPMP/BPMP, satuan pendidikan, dan mitra pembelajaran diharapkan semakin memperluas pemanfaatan konten digital. “Sekembalinya dari summit ini, para peserta diemban mandat untuk menjadi inisiator yang aktif mengimbaskan ilmu dan keterampilannya pada pendidik lainnya, pada rekan sejawat, pada para kolega, di satuan pendidikan internal maupun di satuan pendidikan eksternal di wilayah masing-masing,” pungkasnya.











