“Aku sedang berganti kepribadian nih untuk menangani hal itu.”
Kita sering mendengar kalimat seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa terpaksa “mengganti” sesuatu dalam dirinya saat menghadapi situasi atau keputusan yang mengharuskan mereka keluar dari zona nyaman. Bagi sebagian orang, kepribadian dimaknai sebagai cara berperilaku ketika berada dalam masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan penting: “Apakah kita memiliki lebih dari satu ‘diri’ yang muncul dalam situasi berbeda?“
Fenomena ini ternyata cukup umum dialami oleh banyak orang. Lalu, apakah ini berarti kita memiliki banyak kepribadian, atau justru ini adalah bagian dari sifat manusia yang kompleks? Sebuah penelitian oleh Pietkiewicz dkk. pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kesalahan dalam pengidentifikasian dan praktik imitasi pada gejala gangguan kepribadian disosiatif. Hal ini berujung pada meningkatnya kasus ketidaktepatan diagnosis pada sejumlah gangguan mental. Supaya kita tidak salah paham, mari kita telusuri lebih dalam.
Mengapa Aku Merasa Memiliki Banyak Kepribadian?
Kehidupan sehari-hari kita dipenuhi oleh kondisi yang dinamis dan terus berubah. Dalam banyak situasi, kita harus merespons sesuai dengan norma masyarakat, tuntutan lembaga, atau faktor eksternal lainnya yang kadang bertentangan dengan prinsip hidup kita. Adaptasi kita dalam menghadapi berbagai situasi sering kali dipengaruhi oleh sifat dasar kita sebagai makhluk sosial. Misalnya, kita bisa menjadi pribadi yang ceria dan terbuka saat berada di lingkungan keluarga, namun lebih pendiam saat berhadapan dengan orang baru atau yang belum cukup dekat.
Perubahan ini sering kali mudah disadari, bahkan memunculkan pertanyaan: “Apakah aku punya banyak kepribadian?” Pertanyaan ini muncul ketika kita mulai menunjukkan sisi-sisi berbeda dari diri kita tergantung situasi yang ada. Menurut Allen dkk. (2022), kecenderungan kita untuk beradaptasi dalam interaksi sosial terkait dengan kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok (need to belong). Penelitian mereka menunjukkan bahwa manusia memiliki dorongan kuat untuk mempertahankan hubungan interpersonal guna membangun ketahanan dalam menghadapi dinamika sosial yang fluktuatif. Kebutuhan ini turut memengaruhi proses berpikir dan kondisi emosional seseorang.
Pada sebagian kasus, ‘pergantian kepribadian’ dapat dipicu oleh stres atau pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan. Pengalaman negatif yang mendalam, seperti trauma, menimbulkan respons—baik secara fisiologis maupun sosial—yang berfungsi sebagai bentuk pertahanan diri bagi individu untuk menyeimbangkan kondisi psikologisnya dengan lingkungan eksternal. Perlu kita ketahui bahwa setiap orang memiliki suasana hati, kognisi, stres, hasil belajar, dan kondisi yang berbeda-beda. Fenomena ini merupakan salah satu cara otak manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, dalam berbagai konteks seperti profesionalisme, perubahan ini adalah hal yang biasa dan sering dihargai.
Kepribadian dan Karakteristiknya
Dalam konteks psikologi, kepribadian adalah sekumpulan pola pikir, perilaku, dan perasaan yang konsisten dan unik. Hal ini membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia. Menurut McCrae dan Costa (2021), kepribadian berkaitan erat dengan bahasa alami manusia. Karena kepribadian bersifat abstrak dan sulit diukur, kita sering membutuhkan alat bantu untuk mengidentifikasinya secara lebih akurat.
Kepribadian terdiri dari dua sisi: sisi yang dapat diamati (overt) dan sisi yang tidak dapat diamati (covert). Sisi yang tampak mencakup perilaku yang terlihat, seperti melirik atau mengepalkan tangan, sementara sisi yang tersembunyi melibatkan proses internal seperti berpikir dan introspeksi. Memahami kedua sisi ini sangat penting untuk mempelajari kepribadian secara menyeluruh.
“Banyak Kepribadian” sebagai Gejala Gangguan Psikologis
Kepribadian yang sehat memiliki karakteristik, seperti keterbukaan terhadap lingkungan sosial, persepsi positif terhadap diri, dan pengendalian impuls yang baik. Kepribadian yang stabil memungkinkan seseorang berfungsi secara efektif dalam interaksi sosial. Di sisi lain, ketidakseimbangan dalam kepribadian dapat meningkatkan risiko gangguan mental. Salah satu gangguan yang terkait dengan perubahan kepribadian adalah Gangguan Identitas Disosiatif (DID), yang dulu dikenal sebagai Multiple Personality Disorder (MPD).
Dalam kondisi ini, seseorang mengembangkan dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda dan sering kali bertentangan. Setiap kepribadian memiliki pola perilaku, ingatan, dan cara berpikir yang unik. Kepribadian ini muncul secara bergantian, sering kali mengambil alih tubuh tanpa kesadaran individu. Perubahan ekstrem ini bisa disebabkan oleh trauma berat, terutama pada masa kanak-kanak, yang memicu mekanisme pertahanan diri berupa fragmentasi kepribadian. Pada saat tersebut, individu menciptakan identitas baru untuk menghindari atau mengatasi pengalaman yang sangat menyakitkan. Selain itu, respon terhadap stresor yang sangat tinggi dapat mengganggu kondisi fisik dan pelepasan hormon tubuh yang tidak terkendali. Sebagai contoh hormon adrenalin, kortisol dan norepinefrin.
Apakah Ini Membahayakan atau Mengkhawatirkan?
Penting untuk diingat bahwa tidak semua perubahan kepribadian yang kita alami berhubungan dengan gangguan psikologis. Misalnya, perubahan perilaku dalam situasi sosial berbeda sering kali merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk beradaptasi, bukan tanda gangguan. Kepribadian manusia memang kompleks dan dapat berubah sesuai konteksnya. Namun, jika perubahan ini sangat ekstrem dan bertahan lama, atau mempengaruhi kualitas hidup, itu bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius.
Dalam beberapa kasus, perubahan kepribadian yang dramatis bisa menjadi gejala gangguan psikologis seperti DID. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara adaptasi sosial biasa dan gangguan psikologis yang membutuhkan perhatian medis.
Apa yang Dapat Saya Lakukan?
Diagnosis oleh tenaga profesional diperlukan untuk mengidentifikasi gejala-gejala yang muncul. Hal ini penting untuk menghindari diagnosis mandiri yang sering kali tidak akurat dan bisa menambah kecemasan. Profesional, seperti psikolog atau psikiater, memiliki alat diagnostik yang tepat untuk menilai kondisi mental seseorang dan memberikan perawatan yang sesuai.
Jika Anda merasa kesulitan mengelola emosi atau merasa tidak nyaman dalam fungsi sosial, segeralah mencari bantuan dari ahli kesehatan mental. Dengan berkonsultasi dengan mereka, Anda dapat mengidentifikasi penyebab perasaan atau perilaku yang mengganggu dan merencanakan langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan mental Anda.
Dengan demikian, menjadi sadar akan perubahan kepribadian dalam kehidupan sehari-hari adalah langkah pertama dalam menjaga keseimbangan emosional dan mental. Jika perasaan atau perubahan tersebut mulai mengganggu kualitas hidup, jangan ragu untuk mencari dukungan profesional. Mengerti dan merawat kesehatan mental kita adalah hal yang sangat penting.
Referensi
1. American Psychiatric Association (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
2. Allen, K. A., Gray, D. L., Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (2022). The need to belong: A deep dive into the origins, implications, and future of a foundational construct. Educational psychology review, 34(2), 1133-1156.
3. Bailey, T. D., Boyer, S. M., & Brand, B. L. (2025). Dissociative disorders. Diagnostic Interviewing, 299-326.
4. Firman, T. (2022, December 21). 10 personality traits that indicate psychological health. Well+Good. https://www.wellandgood.com/health/personality-traits-psychological-health
5. Kate, M. A., Hopwood, T., & Jamieson, G. (2020). The prevalence of dissociative disorders and dissociative experiences in college populations: A meta-analysis of 98 studies. Journal of Trauma & Dissociation, 21(1), 16-61.
6. McCrae, R. R., & Costa Jr, P. T. (2021). Understanding persons: From stern’s personalistics to Five-factor theory. Personality and Individual Differences, 169, 109816.
7. Pietkiewicz, I. J., Bańbura-Nowak, A., Tomalski, R., & Boon, S. (2021). Revisiting false-positive and imitated dissociative identity disorder. Frontiers in Psychology, 12, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.637929
8. Martinez, E. M. (2024). A Phenomenological Study Detailing Psychotherapeutic Perspectives of Psychotherapists Who Treat Individuals Living with Pathological Dissociative Practices.
Penulis: Ricky Aulia
Editor: Redaktur Rakyat Semesta – MG











