Kepala Pusdal LH Jawa, Eduward Hutapea, menegaskan bahwa pemulihan pesisir harus menghubungkan perbaikan ekosistem dengan kesejahteraan masyarakat. Mangrove berperan penting dalam menyediakan habitat biota, mendukung produktivitas perikanan, menyimpan karbon, serta membantu mengurangi energi gelombang dan risiko abrasi pada lokasi yang sesuai.
”Menanam mangrove saja tidak cukup,” kata Eduward sembari mengungkapkan keberhasilan pemulihan ditentukan oleh kesesuaian lokasi, kondisi hidrologi, pemeliharaan, dan perlindungan kawasan. Keberhasilan juga perlu diukur melalui kelangsungan hidup tanaman, regenerasi alami, kondisi habitat, serta manfaat yang dirasakan masyarakat. “Kita tidak ingin masyarakat dihadapkan pada pilihan antara menjaga lingkungan dan memenuhi kebutuhan hidup,” tambah Eduward.
Krisis Pesisir dan Dampak terhadap Warga
Berdasarkan data lapangan, penurunan muka tanah di Sayung mencapai 7 hingga 12 sentimeter per tahun, sementara sekitar 6.600 hektare wilayah Demak terdampak genangan permanen pada tahun 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan pesisir bukan sekadar persoalan ekologis semata, melainkan juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan keberlanjutan mata pencaharian warga setempat.
Rangkaian kegiatan penanganan ini mendapat sambutan aktif dari masyarakat. Pada Selasa (27/10), sosialisasi mangrove di Desa Timbulsloko diikuti oleh 200 warga, kelompok masyarakat, dan perangkat desa. Selain itu, lebih dari 300 peserta turut serta dalam aksi bersih pantai di habitat mangrove Pantai Sayung, di mana volume dan jenis sampah yang terkumpul ditimbang serta dicatat sebagai bahan rekomendasi pengelolaan sampah pesisir.
Sebagai langkah pembukaan alternatif penghidupan, sebanyak 15 perwakilan pemerintah desa dan nelayan mengikuti bimbingan teknis budidaya kepiting bakau pada Rabu (28/10/2026) dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem mangrove di sekitarnya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan
Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, menekankan bahwa kebersihan pesisir merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap aksi bersih pantai ini dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan secara konsisten di tengah masyarakat.
Badruddin juga menyampaikan bahwa hingga 2026, hampir dua juta bibit mangrove telah ditanam di kawasan pesisir Demak. Meski demikian, penanaman tersebut harus diikuti dengan pemeliharaan dan pemantauan berkala guna memastikan pertumbuhan yang optimal serta menindaklanjuti tanaman yang mengalami kerusakan atau mati.
Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor ini, KLH/BPLH memastikan bahwa seluruh rangkaian intervensi di Demak tidak berhenti pada aksi seremonial belaka. Evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan program dijadwalkan pada November 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan pemantauan lapangan secara berkala pada 1–4 Desember 2026 guna mengukur efektivitas pemulihan pesisir sekaligus menjaga kesinambungan mata pencaharian warga secara jangka panjang.















