Ia mengatakan Jakarta memiliki fondasi digital yang kuat untuk mengembangkan pemanfaatan AI. Saat ini, terdapat 102 pusat data di Jakarta atau hampir separuh dari total pusat data di Indonesia.
Menurut Gubernur Pramono, teknologi tersebut perlu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di lapangan. Salah satunya melalui penataan kawasan sepanjang 2,3 kilometer yang mencakup Kampung Bali, Kebon Melati, dan Kebon Kacang di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
“Kita akan menerapkan AI untuk melakukan renovasi dan revitalisasi tanpa melakukan penggusuran,” katanya.
“Saya ingin dilakukan pembenahan dan dibuat menjadi cantik. Saya ingin tahun 2028 ini selesai. Ini bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian persoalan kawasan kumuh dengan menggunakan AI juga bisa dilakukan dan itu dilakukan di Jakarta,” ujarnya.
Selain untuk penataan kawasan, Pemprov DKI juga melihat potensi AI dalam pelayanan publik, pengambilan kebijakan berbasis data, dan pengelolaan mobilitas perkotaan.
Gubernur Pramono menekankan, pemanfaatan AI harus tetap berorientasi pada manusia dengan menjaga privasi, keamanan, keadilan, akuntabilitas, serta inklusi digital.
“Kami memiliki fondasi yang kuat dan kokoh untuk mengembangkan serta meningkatkan ekosistem kecerdasan buatan. Oleh karena itu, kami siap bekerja sama dengan Indonesia. Kami adalah mitra yang dapat diandalkan bagi Indonesia di berbagai sektor, terutama AI,” ujar Yoon Soon Gu.
“Pertemuan ini diharapkan dapat menggagas kerja sama AI ke depan yang betul-betul fokus tentang warga dan populasi terutama generasi muda,” katanya.














