Wamen Nezar: Indonesia Tak Cukup Jadi Pasar AI, Harus Kuasai Titik Strategis

SemestaPost, Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai Indonesia perlu mengambil posisi dalam rantai industri AI global dengan mengamankan titik strategis yang dapat memberi nilai tambah sekaligus memperkuat daya tawar nasional.

Menurut Wamen Nezar, peluang tersebut terbuka karena Indonesia memiliki sumber daya yang dibutuhkan dalam rantai industri semikonduktor, salah satu fondasi utama ekosistem AI.

Tantangannya adalah mengubah sumber daya tersebut menjadi bagian dari rantai nilai teknologi, bukan berhenti sebagai komoditas.

“Ini saatnya kolaborasi harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang end-to-end,” ujar Wamen Nezar dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/09/2026).

Wamen Nezar menjelaskan, industri AI tidak hanya berada pada lapisan aplikasi yang digunakan masyarakat dan pelaku usaha.

Di bawahnya terdapat rantai industri yang mencakup kebutuhan energi dan air, pusat data dan compute power, semikonduktor, platform, hingga aplikasi.

Indonesia, kata dia, memiliki peluang untuk masuk lebih dalam ke rantai tersebut.

Salah satunya melalui material yang dibutuhkan industri semikonduktor.

“Yang namanya semikonduktor itu membutuhkan begitu banyak material, termasuk juga critical mineral. Nah, kita punya banyak di Indonesia yang akan menyumbang untuk pembuatan semikonduktor,” katanya.

Wamen Nezar menyebut nikel, pasir silika, timah, tembaga, dan emas sebagai sejumlah sumber daya yang dimiliki Indonesia.

Namun, kepemilikan bahan baku saja belum cukup untuk menciptakan posisi strategis.

“Pasir silika kita 7,8 miliar ton menurut data ESDM. Tetapi tidak ada yang mengolahnya menjadi silicone wafer yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor,” ujarnya.

Menurut Wamen Nezar, kemampuan mengolah sumber daya menjadi material strategis dapat menciptakan apa yang disebutnya sebagai choke point, yakni titik penting dalam proses produksi yang dikuasai oleh pihak tertentu dan sulit digantikan.

“Dalam industri ini, siapa yang menguasai barang-barang yang langka, dia akan menguasai choke pointChoke point itu bukan seperti menguasai Selat Hormuz atau Selat Malaka, tetapi dalam proses produksi ada titik-titik sempit yang dikuasai oleh negara-negara tertentu saja,” jelasnya.

Karena itu, Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai industri AI untuk mendapatkan posisi strategis.

Wamen Nezar menilai Indonesia dapat memilih bagian tertentu yang memiliki nilai strategis dan kemudian membangun kapasitas di bagian tersebut.

“Mungkin kita tidak akan masuk seperti Taiwan, karena itu butuh waktu yang panjang. Tapi setidaknya kita mengamankan beberapa material yang dibutuhkan oleh industri-industri seperti yang berbasis di Taiwan, di Korea Selatan. Materialnya itu ada di kita,” katanya.

Langkah tersebut dinilai penting di tengah persaingan global untuk menguasai teknologi AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *