SemestaPost, Jakarta – Menteri Agama (Menang) Nasaruddin Umar berpesan tentang pentingnya peran guru dalam membentuk karakter dan kearifan peserta didik di tengah perubahan zaman, khususnya di tengah fenomena AI (Artificial Intelegence dan post-truth. Menurutnya, tugas guru tidak berhenti pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri anak bisa menciptakan terobosan bagi dunia pendidikan.
Hal ini disampaikan Menag di hadapan para pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru. Menag berharap kehadiran Konfederasi Organisasi Profesi Guru dapat memperkuat peran guru sebagai sosok pembentuk karakter bangsa yang intelek dan berakhlak.
“Jadi tugas seorang guru itu bukan mengajar saja, yang paling penting menyalakan lentera hati (kepada anak-anak didiknya),” pesan Menag seusai mengukuhkan Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama Periode 2026–2030 sekaligus Pembukaan Simposium Organisasi Profesi Guru di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Hadir dalam pengukuhan ini di antaranya Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Dirjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, Staf Khusus Kemenag, Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI), Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Kakanwil Kemenag Provinsi beserta jajaran pengurus konfederasi yang menghimpun beberapa organisasi profesi guru lintas agama, jenjang dan karakteristik pendidikan.
Hadapi Era Post-Truth
Menag juga mengingatkan guru mengenai tantangan pendidikan di tengah era post-truth, ketika kebenaran berbasis pengetahuan dan kualitas keilmuan tidak selalu menjadi rujukan utama masyarakat.
“Jadi kebenaran intelektual, kualitas keilmuan itu tidak lagi menjadi sosok yang diidealkan. Sebenar apapun sebuah teori, implementasinya tidak otomatis diterima masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut dunia pendidikan tidak hanya memperkuat kemampuan intelektual, tetapi juga membangun fondasi nilai. Guru perlu membantu peserta didik memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Menag mencontohkan perkembangan tradisi keilmuan pada masa kejayaan Islam melalui Baitul Hikmah di Baghdad. Menurutnya, periode tersebut menunjukkan pentingnya keterhubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama.
“Kota Baghdad itu kepala-kepala para ilmuwan di situ. Nah, padahal di situ puncaknya perpaduan antara sains dan teknologi serta agama. Dan yang di Baitul Hikmah itu kombinasi yang sangat ideal,” kata Menag.
AI Harus Diiringi Akhlak
Menag secara khusus menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi, menurutnya, dapat menjadi instrumen pembelajaran yang penting dalam kehidupan manusia, tetapi tidak cukup jika tidak disertai nilai moral.
“Akhlak masyarakat kita juga semakin terpuruk dari segi moralitas, dari segi perkembangan sains. Oke ada AI, tapi AI without Akhlakul karima, what will be happen?,” tambahnya.
Karena itu, ia meminta para guru untuk memastikan pendidikan agama tidak terlepas dari pembentukan akhlak. Kemajuan sains dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama agar pengetahuan tidak kehilangan arah dan tujuan kemanusiaannya.
“Tanpa agama membimbing ilmu pengetahuan, manusia itu akan berada pada kesesatan yang sangat nyata. Maka siapapun di antara kita disini jangan pernah meninggalkan agama di dalam mengajarkan nilai-nilai kepada anak-anak kita,” tegas Menag.

Menag berharap Konfederasi Organisasi Profesi Guru yang dikukuhkan untuk periode 2026–2030 dapat menjadi wadah yang mendorong terobosan baru dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan di bawah Kementerian Agama.
Ia mendorong guru tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mengembangkan pendekatan pendidikan yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama.
“Caranya seperti apa? Ya itulah yang saya sering kemukakan dalam forum-forum kita: ajarkanlah filosofi Ekoteologi,” pinta Menag.
Kurikulum Berbasis Cinta
Selain ekoteologi, Menag menekankan pentingnya pendidikan agama yang menumbuhkan kecintaan terhadap sesama. Ia mengingatkan agar pendidikan agama tidak digunakan untuk menanamkan kebencian terhadap pemeluk agama lain.
“Dan saya menganjurkan kepada kita semuanya kalau kita mengajarkan agama jangan mendoktrinkan kebencian kepada anak kita terhadap agama lain. Kurikulum berbasis cinta perlu di internalisasikan pada diri seorang anak didik bagaimana mencintai semuanya,” pesan Menag.
Menurut Menag, pendekatan tersebut penting untuk membangun generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter, mampu hidup di tengah keberagaman, serta mampu menggunakan perkembangan sains dan teknologi secara bertanggung jawab.
Hal yang senada juga disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Amin Suyitno, bahwa konsep pendidikan yang dibawa Kementerian Agama adalah integrasi dari proses berpikir rasional yang dibimbing dengan spiritualitas. Dengannya, potensi para peserta didik diharapkan bisa menjadi pelita harapan di tengah tantangan zaman yang dinamis.











