Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pertemuan tersebut menyampaikan sejumlah gagasan strategis, mulai dari redefinisi pengelolaan sampah, gerakan penyelamatan hutan, hingga pentingnya komitmen nasional terhadap paradigma pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Pertama, Haedar menegaskan bahwa program lingkungan hidup yang digarap Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada aspek pemeliharaan fisik semata, melainkan juga menyentuh ranah edukasi praktis dan spiritual. Dalam hal ini, Haedar menyambut baik gagasan yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat terkait “Taubat Ekologis” yang merupakan sebuah pendekatan ekoteologi yang digagas oleh KLH RI.
“Jadi ini bukan hanya pemeliharaan tapi juga advokasi. Bahkan ada program tobat ekologis yang saya yakin itu ada aspek teologisnya,” ujar Haedar dalam pertemuan yang digelar di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.
Kedua, Haedar turut menjelaskan sebuah gerakan yang semakin masif di Muhammadiyah yaitu gerakan Wakaf Hutan. Dalam hal ini, Muhammadiyah memanfaatkan aset-aset lahan kosong, khususnya tanah wakaf yang dimiliki persyarikatan untuk ditanami kembali sebagai upaya konservasi lingkungan.
Selanjutnya, Haedar juga turut menyoroti bagaimana pemerintah harus terus merangkul publik sekaligus melakukan langkah-langkah penindakan yang hati-hati terhadap penegakan hukum lingkungan.
Kontrol publik, lanjut Haedar, juga dinilai sangat krusial dalam mengawasi kepatuhan korporasi atau pihak-pihak yang tidak taat terhadap aturan dan hukum yang berlaku.
“Kalau memang itu tindakan-tindakan kriminal dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu, itu seharusnya urusan pidana yang harus teratasi. Tapi jika menyangkut habit penduduk setempat yang biasa bakar lahan karena keterbatasan teknologi, ya ini menjadi problem yang harus bisa kita pecahkan bersama,” pesan Haedar.
Diakhir Haedar menekankan pentingnya menyepakati satu paradigma mendasar yang dapat dipegang teguh oleh seluruh elemen bangsa termasuk pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia, yaitu paradigma “Membangun Tanpa Merusak”.
Haedar menjelaskan, paradigma ini begitu sejalan dengan prinsip Ihsan di dalam Islam. Haedar mengingatkan agar warga Indonesia tidak terjebak ke dalam romantisme lingkungan yang ekstrem yang melarang sepenuhnya pemanfaatan alam.
Sebaliknya, masyarakat, jelas Haedar harus diberdayakan dan diajarkan untuk mengelola alam secara bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama.
Dalam solusinya, ia merujuk kepada buku Why Nations Fail karya James Robinson. Merujuk ke buku ini, Haedar menggarisbawahi bahwa Indonesia sebagai negara tidak boleh sekadar menyalin mentah-mentah model pembangunan dari luar.
Sebaliknya, negara juga perlu percaya diri dan bertumpu pada kekuatan dalam masyarakat dan institusi-institusinya.
“Dan jangan jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya. Intinya nafsu nafsu yang merusak kita tidak menghendaki itu,” pungkasnya.
Hadir dalam pertemuan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto, Agus Taufiqurrahman, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Sayuti, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Machendra Setyo Atmaja, dan jajaran Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH RI).











